Dalam Acara Pelantikan DPD PPMI Tanta

Pelantikan Dewan Pengurus Daerah Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia di Tanta, Mesir.

Ma'radh Cafe

Meeting Manajemen Haita CafRest.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Gallery Burgal Van Jogja

Haita CafeRestoran bersama Burgal Van Jogja.

Cafe Istad

Cafe Istad Tanta with Friends.

Penggagas Ejaan Yang Disempurnakan

Mantan Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (kini Pusat Bahasa) Prof Dr Amran Halim seorang tokoh bahasa Indonesia, penggagas Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Mantan Rektor Universitas Sriwijaya, kelahiran Pasar Talo, Bengkulu, 25 Agustus 1929, ini meninggal dunia dalam usia 79 tahun, di Palembang, Sabtu 13 Juni 2009 pukul 11.40.

Menurut putri pertamanya, Frieda Agnani, Amaran, guru besar bahasa Indonesia, ini pernah menjabat sebagai Kepala Pusat Bahasa pada tahun 1970-an. Disebutkan, Amran Halim adalah penggagas pembakuan Bahasa Malaysia dan Bahasa Indonesia saat menjabat sebagai Ketua Majelis Bahasa Indonesia Malaysia (MBIM). Hasil pembakuan MBIM akhirnya juga digunakan untuk bahasa Brunei Darussalam. Amran juga ikut menyusun Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) setelah menjabat sebagai Ketua MBIM.

Amran Halim, tokoh bahasa yang juga guru besar Bahasa Indonesia, ini menjadi kepala Pusat Bahasa keenam yang pada awal dibentuknya pada 1 April 1975 bernama Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Setelah Amran Halim, Pusat Bahasa kemudian dipimpin Prof. Dr. Anton M. Moeliono, Drs Lukman Ali, Dr Hasan Alwi, dan kini (2009) dipimpin Dr Dendy Sugono.

Kemudian berdasarkan Keppres tahun 2000, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa berubah nama menjadi Pusat Bahasa. Lembaga ini berada di bawah naungan Sekretariat Jenderal Departemen Pendidikan Nasional.

Amran Halim adalah orang yang berjasa besar dalam pengembangan Bahasa Indonesia. Saat pemerintah menetapkan ejaan resmi Bahasa Indonesia yang diberi nama “Ejaan yang Disempurnakan” (EYD) berdasarkan Keputusan Presiden No.67 Tahun 1972, kemudian Menteri Pendidikan dan Kebudayaan waktu itu Sjarif Thajeb membentuk Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia dengan ketua Amran Halim.

Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia yang dipimpin Amran Halim ini kemudian menyusun buku “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan” yang tebalnya hanya 55 halaman, dicetak pertama kali tahun 1978 oleh penerbit Balai Pustaka. Buku berwarna putih dengan warna biru muda tempat meletakkan judulnya sudah beberapa kali mengalami cetak ulang.

Amran Halim yang hingga akhir hayatnya masih aktif di sejumlah organisasi di Sumsel, seperti menjabat Ketua Dewan Pertimbangan Pendidikan Daerah Sumsel, Dewan Kesenian Sumsel, dan kegiatan kepramukaan, semasa muda pernah bergabung dalam tentara pelajar. Atas perjuangannya tersebut pemerintah menganuegrahkan bintang gerilya. Ia pun berhak untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Ksatria Siguntang, Palembang.

Namun menurut Priada anak tertua almarhum, ayahnya pernah mengatakan tidak ingin mau dimakamkan di taman makam pahlawan. "Almarhum ingin tetap di makamkan di taman pemakaman umum Puncak Sekuning dekat makam ibu,” ujar Prida.

Amran Halim meninggal dunia di RS RK Charitas, Palembang, Sumatera Selatan, karena kanker paru. Sempat dirawat di RS RK Charitas selama 17 hari. Amran Halim meninggalkan seorang istri, Nuryanti Syafniar Amran (65), dan dua anak kandung, Frieda Agnani Amran (50) serta Davron Donny Amran (46), serta lima anak angkat, yaitu Anova Luska (42), Ribodesiana (41), Medika Azwar (37), Variantono (34), dan Agung Hakimolast (31). Hingga akhir hayat memiliki 11 cucu dari seluruh anak kandung dan anak angkatnya.

Tokoh Indonesia

I-4, Upaya Mengulang Kejayaan Ulama Nusantara

Tak disangka-sangka, rencana penyelenggaraan Workshop Internasional dan Sosialisasi Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional untuk wilayah Timur Tengah, Afrika dan Asia Selatan menuai respon yang sangat besar. Entitas ini berubah menjadi raksasa yang untuk memahaminya secara integral nyaris tidak bisa terwujud. Penilaiannya secara perspektif atau melihatnya dari angle tertentu lebih mengemuka dan menggempita di dunia maya elektronika. Pertama-tama adalah respon beberapa pembaca situs berita Detik.com terkait rencana penyelenggaraan acara ini. Ada satu dua pembaca yang mempertanyakan kapasitas atau kompetensi ilmuwan Timur Tengah –yang nota bene berlatar-belakang ilmu-ilmu keislaman- dalam mendiskusikan masalah terorisme. Lalu diikuti juga oleh beberapa elemen masisir lebih suka menengok ke belakang, mempertanyakan kembali keterwakilan koorodinator I-4 Timteng, Afrika dan Asia Selatan dalam organisasi para ilmuwan ini, sebagaimana ada juga yang melihat ketimpangan hubungan I-4 dengan organisasi induk masisir.

Kalau melihat judul dari acara ini, yakni sosialisasi, maka bisa dikatakan bahwa gegapnya respon terhadap acara ini menunjukkan target acara ini nyaris tercapai. Penulis sendiri dengan kapasitas sebagai Ketua Steering Committe, dalam rapat perdana panitia Workshop Internasional dan Sosialisasi I-4 kawasan Timur-Tengah, Afrika dan Asia Selatan, mengatakan bahwa yang dimaksud dengan sosialisasi adalah sejauh mana Masisir khususnya, dan masyarakat Indonesia di kawasan Timur Tengah, Afrika dan Asia Selatan pada umumnya, mengetahui apa itu I-4 baik secara kuantitatif maupun kualitatif.

Kuantitatif maksudnya diraih jumlah yang maksimal dari obyek sasaran, sementara kualitatif maksudnya diraih pemahaman yang baik mengenai I-4. Respon-respon yang diarahkan kepada I-4 patut dipahami sebagai upaya memahami I-4 dengan baik. Barangkali Panitia harus lebih sabar meladeni respon-respon yang ada meskipun menurut pandangan mereka terkesan berbobot simpel dan insignificant.

Tidak bermaksud melebih-lebihkan konsep dan kerja koordinator berikut panitia yang menyertainya, tapi upaya untuk menyuguhkan apa dan bagaimana I-4 mulai dari sejarah berdirinya, rekonstruksi rancang bangun organsisai I-4 sampai target-target yang akan diraih untuk masa sekarang dan mendatang sudah digodog dengan cukup matang. Dalam sesi brainstorming misalnya, para stakeholders I-4, baik pusat maupun kawasan akan memaparkan dengan gamblang semua hal terkait dengan I-4.

Dalam sesi berikutnya, yakni keorganisasian I-4, akan dibahas mengenai bangunan organsisasi I-4, khususnya untuk kawasan Timur-Tengah, Afrika dan Asia Selatan. Di sinilah para peserta ditantang untuk membuat bangunan rumah I-4 yang kokoh, mempunyai visi ke depan yang jelas dan memberikan manfaat seluas-luasnya kepada masyarakat Indonesia. Kita sangat berharap peserta dari Mesir berperan aktif dan mewarnai dalam sesi ini karena di samping sebagai peserta mayoritas, mereka adalah tuan rumah sekaligus tumpuan harapan para generasi setelahnya.

Satu lagi yang tak luput dari bidikan jeli panitia adalah sesi futuristik, yakni pembahasan mengenai garapan unggulan I-4 Timteng dan Afrika. Pada sesi inilah para peserta ditantang untuk membuat program-program yang bersinergi dengan program-program I-4 di kawasan lain, atau lebih dari itu, mampu menyuguhkan program-program yang berkualitas tapi sarat dengan sumbangsih yang tinggi pada masyarakat Indonesia. Sesi ini bisa juga dikatakan sebagai upaya mengulang sejarah kejayaan para ulama Nusantara tempo doeloe, di mana ketika mereka bermukim di negeri orang, mereka berkumpul mengonsep pendidikan, kesejahteraan masyarakat, masa depan bangsa. Buah dari “ilmuwan-ilmuwan Nusantara tempo doeloe’ inilah yang merupakan cikal-bakal kemunculan pesantren-pesantren, metode-metode belajar mengajar, dan organisasi-organisasi masa, yang manfaatnya masih bisa kita rasakan sampai sekarang ini.

Sebagai bentuk realisasi dari kerja para ilmuwan, panitia juga menyediakan waktu yang cukup longgar untuk membahas dua tema krusial bagi negara kita, yakni Terorisme dan Human Trafficking. Sesi ini akan menjadi sangat menarik, karena dua tema yang menurut common sense sangat lekat dan erat dengan disiplin sosiologi umum akan dibahas oleh para ilmuwan yang berlatar-belakang ilmu-ilmu keislaman seperti Tafsir, Hadis, Dakwah Islamiyah, dan lain-lain. Lalu bagaimanakah para ilmuwan dengan latar belakang seperti itu akan membahas dua tema tersebut? Apakah dua tema tersebut sejatinya memang terkait dengan masalah-masalah keagamaan? Lagi-lagi sesi ini akan bertambah menarik, karena para ilmuwan muda dalam membahas masalah ini akan dipandu oleh guru besar yang berkompeten dalam bidang ini. Satu hal yang tentu akan mengingatkan kita akan dunia akademis yang kritis, konstruktif dan terarah.

Akhiran, di tengah derasnya respon yang beragam menanggapi acara ini, penulis berharap teman-teman panitia bisa menampung semua aspirasi Masisir demi kesuksesan acara ini pada khususnya, dan terbangunnya pemahaman utuh atas I-4 secara umum. Semoga Allah membalas kebaikan orang yang berkhidmah demi ilmu dan ulama dengan yang lebih baik. Dan semoga organisasi ini bias berkembang sebagai sunnah hasanah yang akan terus berproses, serta memberi manfaat seluas-luasnya kepada masyarakat Indonesia.

M. Saifuddin, M.A (Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional)

Bung Karno Sebagai Seorang Arsitek

Tahun 1933, sekitar bulan Februari, selepas Bung Karno keluar dari rumah tahanan, Ir. Rooseno mau mendirikan Biro Oktroi bersama Bung Karno. Rooseno kuat dalam hitung-hitungan struktur sementara Bung Karno jago dalam menggambar.

Banyak gedung yang dibuat oleh biro oktroi ini, termasuk sebuah rumah di Jalan Pangkur (dekat tempat tinggal Bung Karno) dan di Jalan Suniaradja, Bandung. Sebelum bersama Rooseno, Bung Karno mendirikan biro arsitek bersama Ir. Anwari, akan tetapi waktu semasa dengan Anwari, Bung Karno lebih sibuk dalam kancah politik. Walaupun begitu, beberapa rumah bisa dibangun bersama Anwari sekitar tahun 1926-1929, yang berkantor di rumah sewa Bung Karno, di Regentweg (Jalan Dewi Sartika).

Di Regentweg Bung Karno merancang beberapa rumah kecil, di saat itu dia mengeluh "aku ini berpikiran besar, tapi yang aku rancang rumah-rumah kecil", namun biarpun begitu rumah buatan Bung Karno banyak yang berdiri kokoh sampai sekarang, ini membuktikan kekuatan dan daya tahan rumah buatan Bung Karno sangat ampuh.

Kalo Anwari sedang menghitung, Bung Karno biasanya duduk-duduk di teras untuk menemui tamu-tamu yang banyak datang. Dan kalau sedak tidak ada uang, sementara Inggit masih di luar untuk berdagang jamu dan batik, Bung Karno kerap memanggil wartawan yang lewat. "Mau kemana?" teriak Bung Karno. Sang wartawan menoleh "cari berita". Bung Karno berteriak lagi "sudah sini saya buatkan tulisan" tak lama kemudian tulisan itu terbuat di meja teras Bung Karno, dan wartawan itu memberi honor langsung di tempat. Uang itu lantas dibelikan peuyeum untuk disuguhkan kepada para tamu Bung Karno. Sepanjang hidupnya, Bung karno tidak pernah tertarik pada uang, ia selalu tertarik pada "hubungan antar manusia".

Sebagai arsitek, Bung Karno dididik oleh Prof.Wolff Schoemaker, yang pernah terkesan akan daya imajinasi Bung Karno. Bangunan depan hotel Preanger yang sedang direnovasi, Bung Karno yang disuruh menyelesaikannya. Padahal saat itu Bung Karno belum lulus kuliah dan baru saja magang. Karena tidak punya uang, Bung Karno tidak seperti mahasiswa lain yang melanjutkan pendidikan arsitektur ke Delft tapi menyelesaikannya dengan magang.

Di kemudian hari, Bung Karno mengembangkan kemampuan arsiteknya dalam membentuk karakter bangsa. Bung Karno kurang menyukai detail-detail yang rumit dan kecil, tetapi sangat menyukai kepada yang besar, perkasa, dan bersifat monumental. Monumen Nasional adalah contoh jelas prinsip Bung Karno tersebut, menara yang relatif polos, namun tinggi menjulang di satu openspace raksasa kawasan Gambir telah menjadi landmark bagi Jakarta, sejajar dengan landmark negara lain seperti Statue of Liberty, Eiffel, Sidney Opera House, dll.

Bung Karno menyukai karya yang bersifat abadi, dan murni kreasi bangsa sendiri, bahkan kadang dekat dengan misteri alam dan misteri sosial. Bung Karno yang anti feodalisme senang mengamati alam, "berdialog" dengan alam dan berpikiran tanpa batas. Mungkin karena hal inilah, muncul ucapanya yang terkenal "Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit".

Bung Karno menyukai wayang, yang kadangkala mempengaruhi pribadi dan filosofinya. Sebagai anak desa yang tumbuh dalam budaya Jawa, ia tak terpengaruh untuk menjadi "rural-agraris". Pribadi yang halus, sopan namun tegas bertindak. Ia juga sangat menghargai harga barang seni yang diinginkannya, sehingga tidak mau membeli dengan harga murah, hanya karena ia seorang yang memiliki kedudukan tinggi.

Dibalik itu semua Bung Karno mengajarkan pada bangsa Indonesia untuk membangun dan melatih imajinasi. Bangsa yang memiliki daya imajinasi, maka bangsa itu menjadi besar. Namun sayang banyak orang tidak mengerti, termasuk sederetan mahasiswa-mahasiswa di tahun 1966, yang berteriak: kita membutuhkan nasi, bukan monumen. Bung Karno bilang, bahwa bangsa besar monumen adalah kehormatan, adalah martabat. Maka beliau bilang "monumen itu seperti celana" lalu mahasiswa-mahasiswa itu bilang "ada orang pikun, monumen dibilang celana".

Nyata-nyata, apa yang dipikirkan Bung Karno kita merasakannya sekarang. Sebagai bangsa kita tidak punya kehormatan sama sekali, karena apa? karena bangsa ini telah menyingkirkan Bung Karno, seorang arsitek besar bagi sebuah kehormatan dan kemerdekaan bangsa Indonesia. Kini saatnya, kita menoleh kembali pada Bung Karno, Sang tonggak sejarah bangsa Indonesia.

Agama Mendengar Suara Perempuan Korban Kekerasan Demi Keadilan

“Mereka tidak tahu kecuali bahwa saya hanya dipukul. Saya tidak cerita kepada suami. Saya sangat takut dan merasa sangat malu. Saya tidak berani ambil risiko dan tidak berani membayangkan kalau suami saya tahu. Kemungkinan besar, dia tidak bisa menerima bahwa saya sudah ditiduri oleh orang lain, walaupun itu diperkosa … Malu, kalau terjadi perceraian dan masyarakat nanti akan cari tahu [apa alasannya].” (Perempuan Aceh, korban penyiksaan seksual pada masa konflik bersenjata, 2003)

Komnas Perempuan bekerja dengan berpedoman pada prinsip bahwa hak korban mencakup hak atas kebenaran, keadilan dan pemulihan. Ketiga hak ini saling kait mengkait, tidak dapat dipisah-pisahkan dan merupakan satu kesinambungan yang menghubungkan pemulihan diri yang personal dengan pemulihan kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang lebih luas. Dari pengalaman menerapkan prinsip tersebut selama ini terlihat peran lembaga dan komunitas agama merupakan kunci dalam memberikan bantuan praktis jangka pendek bagi perempuan korban maupun dalam upaya jangka panjang untuk membangun kesadaran baru di tengah masyarakat agar kekerasan yang dialami para korban tidak terulang lagi.

Salah satu upaya dalam rangka membangun kesadaran bersama ini, Komnas Perempuan bekerja sama dengan kelompok-kelompok agama (Nahdhatul Ulama, Muhammadiyah, Kristen, dan Katolik) untuk menyuarakan respon positif mereka terhadap gerakan penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Kerja sama dengan komunitas agama ini dibangun melalui para teolognya dengan berproses bersama melalui sebuah dialog yang konstruktif dan berkesinambungan antara perempuan korban dan komunitas serta pemuka agamanya, demi kebenaran, keadilan dan pemulihan.

Buku dengan judul Memecah Kebisuan: Agama Mendengar Suara Perempuan Korban Kekerasan Demi Keadilan (Respon NU) ini mengangkat beberapa kasus kekerasan, yakni poligami yang merupakan celah atau peluang terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kondisi perempuan kepala keluarga di lingkungannya, serta perempuan-perempuan yang memilih profesi sebagai buruh migran (TKW) untuk melanjutkan kehidupan yang lebih baik bagi diri dan keluarganya. Tiga fenomena ini cukup menjelaskan tindakan kekerasan dialami perempuan di tengah-tengah masyarakat yang patriarkal dan pemahaman yang “keliru” terhadap ajaran agama telah meminggirkan, mendiskriminasi bahkan menihilkan keberadaan perempuan.

Sebagai sebuah sikap, buku ini menawarkan cara pandang baru dari perspektif agama (Islam) dalam memandang perempuan korban kekerasan. Ia meminta rumusan yang lebih adil bagi perempuan tentang kodrat, penjaga kesucian (diri, keluarga, dan komunitas), perempuan sebagai anak, istri, dan kepala keluarga, bahkan tentang perempuan sebagai warga negara dan juga pejabat publik. Sejarah nasib perempuan sebelum dan sesudah Islam diajarkan kepada masyarakat juga dipaparkan dalam buku ini: bagaimana perempuan dikubur hidup-hidup ketika lahir karena dianggap aib dalam keluarga hingga diperjualbelikan, dipaksa kawin dan melacur. Agama Islam lahir pada saat itu untuk meninggikan nilai-nilai kemanusiaan. Perempuan diangkat harga dirinya karena demikianlah manusia seharusnya.

Beberapa rekomendasi buku ini ditujukan kepada tokoh agama, organisasi perempuan Islam, dan pemerintah. Tokoh agama diharapkan mempertimbangkan perspektif perempuan dalam memahami ajaran agama, memertimbangkan kondisi spesifik yang dialami oleh perempuan korban kekerasan, serta mempertimbangkan suara perempuan korban agar tidak salah mengambil keputusan yang terbaik bagi korban. Misalnya perempuan korban perkosaan tidak semestinya dipaksa untuk menikah dengan pelaku.

Komnas Perempuan